Oleh: Zezen Zaini Nurdin, Pendiri Taman Bacaan Masyarakat Sabilul Huda
Ketika matahari pagi merekah di atas Pasir Ciladur—bentangan perbukitan yang memanjang di Kabupaten Ciamis—seakan-akan ada cerita berabad-abad yang bergema. Itulah Dusun Sukamaju, sebuah permukiman kecil yang menyimpan ingatan kolektif tentang ketulusan hidup di tengah modernisasi. Nama Sukamaju boleh terdengar baru, tetapi di hati masyarakat setempat, identitas asli—Ciladur—tetap hidup dengan detak yang tenang namun konsisten.
Tidak ada yang kebetulan dalam cara orang Sunda memberikan nama pada sebuah tempat. Setiap nama adalah rekaman—pesan yang dikirimkan dari generasi ke generasi tentang karakter geografis, kehidupan air, dan dinamika budaya yang membentuk suatu daerah.
Ciladur berasal dari dua kata Sunda yang indah: “ci” (air atau sungai) dan “ladur” (panjang atau membujur). Nama ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap alam sekitar—sungai yang mengalir memanjang di sepanjang deretan bukit pasir yang berjajar teratur. Orang-orang tua di dusun ini tahu persis bahwa air adalah jantung kehidupan mereka, dan bentang alam yang memanjang adalah tulang punggung pertanian mereka.
Pada tahun 1980-an, ketika pemerintah desa melakukan penataan administratif, terjadi perubahan nomenklatur yang bermakna mendalam. Ciladur berubah menjadi Sukamaju—”suka” (senang, kemauan yang tulus) dan “maju” (berkembang, mengalami peningkatan). Perubahan ini bukan sekadar penggantian nama formal. Ini adalah transformasi aspirasi: dari toponimi yang berbicara tentang alam, menjadi nama yang mengekspresikan harapan kolektif untuk masa depan yang lebih sejahtera. Namun, seperti orang tua yang tidak akan pernah lupa nama panggilan masa kecilnya, masyarakat Sukamaju tetap memanggil dusun mereka sebagai Ciladur dalam percakapan sehari-hari.
Sebelum Sukamaju menjadi bagian dari Desa Cileungsir, ada sebuah tempat yang menjadi jantung politik lokal: Pinangtiwi. Di sinilah, selama 141 tahun lamanya—dari tahun 1816 hingga 1957—para kuwu (kepala desa) memimpin Desa Ciladur sebagai entitas pemerintahan yang mandiri dan berdaulat.
Raden Pradjamanggala adalah kuwu pertama yang meletakkan fondasi tata ruang dan administrasi desa tersebut. Setelah beliau, hingga Raden Sukartapradja—kuwu terakhir Ciladur sebelum integrasi administratif—sembilan pemimpin berturut-turut menjalankan tugasnya di Pinangtiwi. Mereka bukan hanya pemimpin formal. Dalam komunitas agraris Pasundan, kuwu adalah figur yang memahami irigasi, mengelola pemajakan tanah, menjaga harmonisasi sosial adat, dan menjadi jembatan antara rakyat dengan struktur kekuasaan yang lebih tinggi.
Perjalanan menuju Pinangtiwi saat ini sudah tersembunyi dalam jalur-jalur desa yang berliku. Gedung pemerintahannya tidak lagi berdiri, dan jejak fisik kepemimpinan berlapis abad itu telah tertutup oleh waktu dan perubahan tata administrasi. Namun nama Pinangtiwi tetap disebut oleh warga tua ketika mereka menceritakan masa ketika desa mereka masih “punya kepala sendiri.”
Pada pertengahan abad ke-20, demografi pedesaan mulai bergeser. Populasi di Ciladur masih tersebar jarang, dan jalan penghubung antar-permukiman sangat terbatas. Komunikasi antara pamong desa dan warga sering terhenti karena kendala geografis. Tahun 1957 menjadi titik balik: beberapa desa kecil, termasuk Ciladur, disatukan menjadi satu kesatuan administratif bernama Desa Cileungsir.
Keputusan ini tidak murni datang dari atas. Para pemimpin masyarakat setempat ikut merumuskan, dengan pertimbangan bahwa efisiensi tata kelola akan membawa kemudahan bagi warga. Awalnya, Desa Cileungsir mencakup delapan dusun. Namun seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk, pada 21 Februari 1984, terjadi pemekaran lagi. Desa Cileungsir dipecah menjadi dua: Desa Cileungsir sebagai induk, dan Desa Karangpari sebagai desa baru. Dalam skema ini, Ciladur—yang secara resmi diubah namanya menjadi Sukamaju dalam momentum yang sama—tetap berada dalam Desa Cileungsir.
Kini, Sukamaju adalah dusun terluas di Desa Cileungsir dengan jangkauan 7 Rukun Warga (RW 20 hingga RW 26). Meskipun statusnya berubah dari desa mandiri menjadi dusun, mobilitas sosial dan ikatan budaya warganya tetap kuat. Seperti seorang anak yang beranjak dewasa dan bergabung dengan keluarga besar, Sukamaju membawa warisan sejarahnya sendiri ke dalam Cileungsir.
Ketangguhan masyarakat Sukamaju tidak lahir dari satu hari. Ini adalah hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan nilai-nilai agraris Sunda, ajaran Islam yang tertanam dalam, dan pengalaman hidup bersama yang saling membantu.
Sejak abad ke-18 dan ke-19, Islam telah menjadi fondasi spiritual kehidupan di kawasan ini. Tetapi Islam di sini tidak datang sebagai pengganti adat. Justru, nilai-nilai Islam menyatu dengan norma-norma lokal yang sudah mengakar—asas silih asih, silih asah, silih asuh (saling mengasihi, saling mengajari, saling merawat). Gotong royong bukan slogan, melainkan cara hidup yang tertanam dalam keseharian: membangun rumah bersama, mengairi sawah bersama, merawat masjid bersama.
Jejak sejarah ini masih nyata dalam kehadiran makam-makam kuno leluhur pendiri kampung. Kompleks pemakaman ini bukan hanya tempat penguburan, tetapi landmark budaya yang mengikat memori kolektif tentang asal-usul. Setiap kali mendekati bulan Ramadan atau pada peringatan hari jadi desa, warga akan melakukan ziarah ke makam-makam itu sambil membaca doa dan menceritakan kisah-kisah leluhur kepada generasi muda.
Tradisi mengaji di musala-musala kecil seperti Musala Cikawung sejak zaman dahulu telah membentuk budaya intelektual yang unik: sederhana dalam material, tetapi penuh dengan semangat belajar. Anak-anak diajari Al-Qur’an dan hadis di pagi hari, dengan papan tulis dari kayu dan tinta dari arang yang dilarutkan. Namun semangat untuk menuntut ilmu setinggi langit tidak pernah padam. Inilah sebabnya mengapa Sukamaju kemudian melahirkan banyak akademisi, guru, dan pegawai negeri sipil yang berhasil di perantauan, namun tetap memiliki akar yang kuat di kampung halaman mereka.
Di tengah transformasi administrasi yang terjadi, kehadiran Pondok Pesantren Sabilunnajat sejak tahun 1965 menjadi penanda penting. Pesantren ini didirikan oleh KH. Hasan Ma’ruf, seorang ulama karismatik yang memiliki visi untuk mengintegrasikan kajian kitab kuning klasik dengan pendidikan formal modern.
Perjalanan pesantren ini sendiri adalah cerminan dari dinamika tempat dan permukiman di Sukamaju. Awalnya berada di musala sederhana di Cikawung, lalu pindah ke Sawah Luhur, kemudian Cinangsi, sebelum akhirnya memiliki kompleks sendiri yang lebih mapan. Setiap perpindahan adalah tanda pertumbuhan dan adaptasi—pesantren tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak meninggalkan warisan keilmuan tradisional.
Hari ini, Sabilunnajat mengoperasikan beberapa unit layanan: pondok pesantren untuk santri yang mendalami kitab kuning dan tahfiz Qur’an, sekolah menengah kejuruan yang mengajarkan keahlian praktis, dan taman kanak-kanak yang memperkenalkan nilai-nilai Islam sejak dini. Pesantren ini adalah bukti nyata bahwa tradisi dan modernitas tidak harus bertentangan. Santri di sini belajar logika klasik dari kitab kuning pada pagi hari, dan belajar mekanik atau administrasi bisnis pada sore hari.
Salah satu dampak paling terlihat dari tradisi belajar di Sukamaju adalah kehadiran Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA. Sejak masa mudanya, beliau mengaji di Musala Cikawung, tempat yang sama di mana ribuan anak Sukamaju lainnya tumbuh besar. Kariernya yang menakjubkan—menjadi Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada periode 2015–2019—bukan keberuntungan semata. Ini adalah hasil dari etos belajar yang tertanam sejak kecil, dari pengajian di musala sederhana hingga gelar doktor dari universitas terkemuka.
Prof. Dede Rosyada telah menerbitkan puluhan buku referensi akademik di bidang pendidikan Islam, metodologi pembelajaran, dan hukum Islam yang menjadi rujukan nasional di berbagai perguruan tinggi. Karyanya tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis—beliau telah membantu mengembangkan sistem pendidikan Islam yang relevan dengan kehidupan modern tanpa kehilangan nilai-nilai tradisional. Kini beliau kembali sebagai pembina Pesantren Sabilunnajat, membuktikan bahwa kesuksesan di perantauan bukan alasan untuk meninggalkan akar.
Cerita sukses tidak hanya dimiliki oleh Prof. Dede Rosyada. Di kawasan Rancah, ada Karnah Sukarta Wirasaputra, atlet asal Rancah yang meraih medali perunggu dalam cabang atletik nomor lempar lembing di Asian Games Tokyo 1958. Meskipun keluarganya hanya petani kecil, Karnah menunjukkan bakat olahraganya sejak muda dan berhasil mencapai prestasi internasional. Kehidupannya kemudian membawa inspirasi kepada generasi muda Rancah tentang pentingnya dedikasi dan kerja keras.
Selain itu, ada para peneliti dan dosen berlatar belakang pesantren yang melahirkan karya ilmiah serta riset tesis dan buku yang berkontribusi pada pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Mereka adalah bukti hidup bahwa dari pedesaan kecil seperti Sukamaju, bisa lahir para pemikir dan pemimpin yang membawa perubahan.
Ketika saya memutuskan untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Sabilul Huda pada tahun 2012, bukan dengan mimpi besar yang fantastis. Awal mulannya sangat sederhana: saya seorang tenaga kependidikan di sekolah yang mencintai buku, dan saya melihat banyak anak-anak di Sukamaju yang tidak memiliki akses mudah untuk membaca.
Saat itu, saya telah bekerja di Madrasah Aliyah Negeri Ciamis sejak 2007. Ini mengajarkan kepada saya bahwa ilmu adalah harta yang paling berharga. Namun, ketika saya melihat anak-anak kampung tidak memiliki buku yang cukup, saya merasa ada yang hilang dalam sistem pendidikan kita.
Tidak ada ruang perpustakaan yang layak. Tidak ada tempat yang nyaman untuk anak-anak duduk dan membaca. Waktu itu, koleksi buku masih minim, dan semuanya harus disimpan di tempat yang tidak ideal. Berawal di emper masjid Sabilul Huda, Kami menggunakan saung terbuka—struktur tradisional Sunda yang indah, tetapi sangat rentan terhadap cuaca dan keamanan buku.
Bersama sebelas relawan literasi yang bersemangat, kami memulai. Kami mengumpulkan buku dari sana-sini, dari sumbangan tetangga, dari guru-guru yang peduli, dari orang-orang baik hati. Visi kami sangat jelas: ini bukan sekadar perpustakaan biasa, tetapi pusat untuk mengasah karakter dan kepribadian anak-anak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan.
Yang membedakan TBM Sabilul Huda dari perpustakaan konvensional adalah pendekatan kami terhadap literasi. Kami percaya bahwa membaca bukan sekadar mengejar prestasi atau nilai tinggi. Membaca adalah alat untuk mengubah mindset, membuka wawasan, dan paling penting—menginspirasi anak-anak untuk termotivasi menjadi warga negara yang baik.
Frasa yang sering saya ulangi kepada para relawan dan orang tua adalah: “Kami mengajarkan anak-anak untuk tidak terlalu fokus mengejar atau harus berprestasi, tetapi paling penting anak bisa terinspirasi, kemudian termotivasi dan ikut berpartisipasi dan beraksi membangun negeri.”
Ini adalah visi dan misi kami. Inilah mengapa setiap program yang kami jalankan selalu dirancang dengan pertanyaan: Bagaimana program ini bisa menginspirasi? Bagaimana program ini bisa menggerakkan anak-anak untuk berbuat kebaikan?
Sejak awal, TBM Sabilul Huda menjalankan beberapa program unggulan yang telah menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat Sukamaju.
Ngabaran (Ngaji Bareng Ramadan) adalah program yang paling dinanti-nantikan. Setiap bulan Ramadan, puluhan anak-anak berkumpul untuk mengaji bersama, belajar tentang nilai-nilai bulan suci itu, bermain games Islami, menulis cerita, mewarnai, menonton film Islami, dan tentunya berbagi takjil. Program ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu setiap tahun.
Ahad Ceria adalah inisiatif untuk membaca, bercerita, dan menciptakan kebahagiaan bersama. Setiap hari Ahad, anak-anak berkumpul, membacakan cerita yang mereka sukai, dan saling berbagi pengalaman. Program ini mengajarkan kepada mereka bahwa suara mereka penting dan cerita mereka layak didengar.
Sekolah Menulis adalah usaha untuk mengembangkan keterampilan menulis anak-anak. Kami bekerja sama dengan komunitas literasi daerah untuk membantu anak-anak menyusun pikiran mereka menjadi tulisan yang bermakna. Ini adalah cara kami mengajarkan bahwa setiap anak adalah penulis potensial yang memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan kepada dunia.
Program literasi lingkungan dan tradisional juga kami jalankan—mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan, memainkan permainan tradisional yang hampir terlupakan, dan membuat mainan dari barang-barang bekas. Ini adalah cara kami memastikan bahwa anak-anak Sukamaju tidak kehilangan akar budaya mereka di tengah arus digital.
Setiap inisiatif ada tantangannya. Pada awalnya, kami bekerja dengan sumber daya yang sangat terbatas. Ruang masih terbuka, buku masih sedikit, dan pendanaan sangat minimal. Tahun demi tahun, kami terus berusaha mengumpulkan dana dari berbagai sumber untuk membangun perpustakaan yang permanen.
Seiring waktu, koleksi buku kami bertambah hingga mencapai lebih dari seribu judul. Kami juga mendirikan Yayasan Fimadina pada tahun 2017 untuk mendukung kegiatan-kegiatan sosial, amal, dan kemanusiaan yang lebih luas. Dengan dukungan ini, kami bisa mengembangkan program-program yang lebih komprehensif.
Namun, tantangan fisik tetap ada. Perpustakaan kami masih membutuhkan gedung permanen yang benar-benar layak. Ruang belajar yang tertutup akan memungkinkan kami untuk mengelola buku dengan lebih baik dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif untuk anak-anak. Koleksi buku kami sangat berharga, dan setiap kali musim hujan tiba, kami selalu khawatir akan keamanannya.
Impian saya untuk TBM Sabilul Huda tidaklah berlebihan. Saya ingin membangun sebuah gedung perpustakaan yang permanen, dengan ruang baca yang nyaman terpisah menurut tingkat usia anak, ruang pembelajaran yang luas, dan tentu saja, tempat yang aman untuk menyimpan semua koleksi buku yang kami miliki.
Lebih dari itu, saya bermimpi bahwa gerakan literasi dari Sukamaju ini bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain. Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis. Literasi adalah tentang membuka mata terhadap dunia, memberdayakan diri sendiri, dan menjadi warga negara yang sadar dan bertanggung jawab.
Saya juga berharap bahwa suatu hari, anak-anak dari Sukamaju yang telah membaca ratusan buku dan menginspirasi diri dengan cerita-cerita tentang tokoh-tokoh sukses, mereka akan keluar ke dunia. Sebagian akan menjadi guru, dokter, engineer, penulis, atau pemimpin di berbagai bidang. Namun, di mana pun mereka berada, mereka akan membawa nilai-nilai literasi—pentingnya membaca, pentingnya berpikir kritis, dan pentingnya berbagi ilmu—kepada generasi berikutnya.
Ini adalah kontribusi kecil saya sebagai seorang guru dan pegiat literasi: memastikan bahwa anak-anak Sukamaju tidak tertinggal dalam dunia yang semakin kompleks ini. Karena saya percaya, ketika kita membaca, kita akan tahu. Dan ketika kita tahu, kita akan menjadi lebih baik.
Ketangguhan TBM Sabilul Huda tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari jaringan lembaga yang bekerja saling melengkapi di Sukamaju, menciptakan ekosistem sosial yang kohesif.
Di sektor pendidikan, selain pesantren dan TBM, ada juga taman kanak-kanak dan sekolah pra-sekolah yang melayani kebutuhan pendidikan anak usia dini. Di sektor keagamaan, pesantren Sabilunnajat dan Miftahul Huda 402, diniah masjid-masjid DKM dan musala-musala lokal menjadi pusat pengajian mingguan dan bulanan. Di sektor kemasyarakatan, Karang Taruna memobilisasi energi pemuda dalam kegiatan olahraga dan sosial.
Kelompok Tani mengelola irigasi sawah dan distribusi pupuk, sementara koperasi simpan pinjam memberikan akses modal yang terjangkau bagi usaha kecil warga. Setiap lembaga ini bekerja tidak dalam isolasi, tetapi dalam jaringan yang saling terhubung oleh nilai-nilai kebersamaan yang sama.
Cerita yang paling menyentuh di Sukamaju adalah tentang orang-orang yang pergi namun tetap kembali—dalam hati, dalam kontribusi, dan dalam investasi untuk masa depan dusun mereka.
Lulusan pesantren, lulusan sekolah formal, dan anak-anak dari keluarga petani pergi ke kota-kota besar: Jakarta, Bandung, dan lainnya.
Beberapa menjadi dosen di universitas ternama, meneliti dan menulis buku yang menjadi referensi nasional. Beberapa menjadi guru atau tenaga medis. Sebagian lagi bergabung dengan birokrasi pemerintahan. Tetapi pergi tidak berarti lupa.
Di era sebelum media sosial, koneksi mereka dengan kampung dipertahankan melalui surat, kunjungan balik saat lebaran, dan diskusi-diskusi informal ketika berkumpul. Kini, dengan teknologi digital, hubungan itu semakin mudah dipelihara. Mereka mengirimkan beasiswa untuk adik-adik berbakat, memberikan konsultasi teknis untuk proyek-proyek desa, atau datang untuk berbicara di sekolah dan pesantren tentang pengalaman mereka.
Fenomena ini memiliki istilah lokal: “pakarang” atau “pakaruman”—kontribusi orang perantau kepada kampung halamannya. Ini bukan kewajiban yang dikenakan, tetapi ungkapan alamiah dari kasih sayang dan rasa tanggung jawab.
Dusun Sukamaju hari ini berdiri di persimpangan jalan. Infrastruktur mulai membaik: jalan sudah beraspal, penerangan jalan umum telah dipasang, akses air bersih dari mata air gunung tersedia. Indeks Desa Membangun (IDM) terus meningkat—dari 0,785 pada tahun 2020 menjadi 0,82 pada tahun 2022. Angka-angka ini adalah bukti kemajuan.
Namun tantangan struktural tetap mengintai. Lapangan kerja formal di pedesaan tetap langka. Tidak ada pabrik, tidak ada pusat perbelanjaan besar yang bisa menyerap tenaga kerja lokal. Hasilnya, generasi muda tetap harus merantau untuk mencari kesempatan. Sawah-sawah yang dulunya hidup penuh dengan tenaga kerja muda kini dikerjakan oleh petani yang sudah berusia senja. Fenomena “aging farmers”—penuaan tenaga kerja pertanian—menjadi permasalahan yang nyata.
Tantangan lain adalah kecepatan penetrasi budaya digital yang menggerus memori lokal. Nama-nama tempat bersejarah seperti Pinangtiwi, Pasir Ciladur, Cikawung—yang dulunya diketahui setiap anak—kini mulai dilupakan oleh generasi yang lebih muda. Sejarah lokal, silsilah kuwu Ciladur, dan makna nama-nama tradisional di peta dusun risiko menjadi pengetahuan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang tua.
Meskipun tantangan besar, Sukamaju tidak tanpa jalan keluar. Sebenarnya, solusi-solusi itu sudah ada dalam potensi internal yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Pertama, sinergi antara tokoh perantau dan dusun perlu diperkuat secara struktural. Forum komunikasi yang lebih teratur—melalui rembug desa yang melibatkan alumni pesantren, ASN, akademisi—bisa menjadi ruang untuk merumuskan program investasi sosial jangka panjang. Beasiswa pendidikan, skim permodalan untuk usaha pemuda, dan pendampingan teknis pembangunan infrastruktur adalah beberapa contoh program yang bisa dirancang bersama-sama.
Kedua, pertanian harus didekati dengan perspektif baru. Karang Taruna dan kelompok tani muda perlu didorong untuk mengadopsi smart farming—penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kearifan lokal. Perpaduan antara tradisi pertanian Sunda yang sustainable dengan inovasi teknologi bisa membuat sektor pertanian terasa relevan lagi bagi generasi muda.
Ketiga, UMKM kuliner tradisional—keripik, opak, rengginang yang sudah ditekuni oleh ibu-ibu setempat selama puluhan tahun—perlu diintegrasikan dengan jejaring digital dan platform e-commerce nasional. Gerakan literasi digital melalui Taman Bacaan Masyarakat bisa menjadi jembatan untuk edukasi tentang pemasaran online tanpa mengorbankan nilai tradisional produk.
Keempat, dan yang paling penting, sejarah dan budaya lokal harus dikodifikasi dan dimasukkan sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan—dari PAUD hingga pesantren, dari sekolah formal hingga Taman Bacaan Masyarakat. Buku-buku tentang toponimi Ciladur, makam-makam leluhur, lokasi bersejarah, dan silsilah kuwu Ciladur perlu ditulis dan didiseminasikan. Ini bukan sekadar nostalgia, tetapi investasi dalam identitas dan harga diri generasi muda Sukamaju.
Sukamaju adalah sebuah cerita tentang kesinambungan di tengah perubahan. Nama geografisnya berubah dari Ciladur menjadi Sukamaju, statusnya bergubah dari desa mandiri menjadi dusun, infrastruktur dan demografi terus bertransformasi—tetapi sesuatu yang esensial tetap bertahan: semangat belajar, nilai-nilai kebersamaan, dan komitmen terhadap pendidikan.
Orang-orang dari Sukamaju tidak menjadi orang kota yang lupa asal. Mereka adalah penjembat—berdiri di dua dunia sekaligus, membawa warisan budaya ke masa depan sambil menerima modernitas tanpa takut. Di Pesantren Sabilunnajat, seorang santri belajar Qur’an di pagi hari dan teknologi di sore hari. Di Taman Bacaan Masyarakat, seorang anak dari keluarga petani belajar menulis cerita yang bisa didengar oleh ribuan orang melalui media sosial.
Ketika matahari terbenam di atas Pasir Ciladur dan cahaya kuning menyinari bentang perbukitan yang memanjang, jelaslah bahwa dusun ini masih memiliki cerita untuk diceritakan. Bukan cerita tentang kemasa pergaluan atau kehilangan, tetapi cerita tentang orang-orang yang tetap berdetak dengan konsisten, mencari jalan untuk hidup yang lebih baik sambil tetap memeluk sejarah yang membentuk mereka.
Ciladur masih bernama Sukamaju dalam dokumen resmi. Tetapi dalam hati, air tetap mengalir memanjang di sepanjang perbukitan, seperti namanya dulu. Dan itu, kiranya, adalah warisan paling berharga dari nenek moyang Sunda kepada generasi sekarang dan yang akan datang.
Asad, Muhammad. (2017). “Pemetaan Sosial Budaya Pedesaan Jawa Barat: Studi Kasus Dinamika Kelembagaan Lokal.” Jurnal Kajian Pedesaan, Vol. 5, No. 3, hal. 234-256.
Danadibrata, R.A. (1983). Kamus Basa Sunda. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Departemen Sejarah, Universitas Padjadjaran. (2021). Historiografi Pedesaan Jawa Barat: Jejak Pemukiman Tua dan Transformasi Administratif. Bandung: Unpad Press.
Detik Jabar. (2024). “Tradisi Ngabaran Ala Taman Bacaan Masyarakat Ciamis Saat Ramadan.” Retrieved from https://www.detik.com/jabar/budaya
Gunawan, Imam. (2016). “Toponimi Sunda: Rekonstruksi Memori Ekologis dalam Penamaan Tempat.” Majalah Linguistik Indonesia, Vol. 34, No. 2, hal. 178-195.
Green-Books.org. (2020). “TBM Sabilul Huda, Ciamis, West Java: Eco-Education Center Project.” Retrieved from https://www.green-books.org/cause/069-tbm-sabilul-huda
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. (2022). Data Indeks Desa Membangun Kabupaten Ciamis Tahun 2020-2022. Jakarta: Kementerian Desa.
Layanan Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Ciamis. (2018). Monografi Desa Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. Ciamis: Pemerintah Daerah.
Nurdin, Zezen Zaini. (2019). Kitab Maulidan: Arab dan Terjemah. Ciamis: Yayasan Fimadina Ciamis
Nurdin, Zezen Zaini; Soleh, Irfan; Masduki, Kiki; dan lainnya. (2023). Kata, Kita dan Makna. Jakarta: Fimadina Inspira Utama
Perpustakaan Universitas Leiden. (1923). Peta Radjadesa Opgenomen Door den Topografischen Dienst (Peta Topografi Tahun 1922/1923). Amsterdam: Koninklijke Bibliotheek.
Rosyada, Dede. (2014). Paradigma Pendidikan Islam dalam Masyarakat Multikultural: Studi tentang Integrasi Pesantren Modern dan Tradisional. Jakarta: Prenadamedia.
Sobarna, Cece. (2018). “Ekosistem Linguistik dan Kearifan Lokal dalam Penamaan Tempat: Perspektif Bahasa Sunda.” Seminar Nasional Budaya Sunda, Universitas Padjadjaran.
Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis. (2021). Profil Desa dan Kelurahan: Kecamatan Rancah. Ciamis: BPS Kabupaten Ciamis.
Syarifudin, Aip. (2019). Hubungan antara Implementasi Perpaduan Sistem Pendidikan Pesantren Modern dan Tradisional dengan Motivasi dan Prestasi Belajar Santri: Studi Kasus di Pesantren Sabilunnajat. Tesis Master, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
TBM Sabilul Huda. (2023). Laporan Kegiatan Taman Bacaan Masyarakat Sabilul Huda Tahun 2012-2023. Ciamis: Unpublished.
Wirasaputra, Karnah Sukarta. (1958). “Prestasi Atletik Indonesia di Asian Games Tokyo.” Kompasiana.com, 2025 Retrospective.
Zonaliterasi.id. (2025). “Perjuangan Panjang Karnah, Guru Asal Rancah Ciamis Peraih Medali Asian Games Tokyo.” Retrieved from https://zonaliterasi.id/perjuangan-panjang-karnah-guru-asal-rancah-ciamis-peraih-medali-asian-games-tokyo/
