Di tengah kehidupan masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan bacaan dan fasilitas pendidikan, lahir sebuah gerakan literasi yang tumbuh dari lingkungan masjid. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sabilul Huda di Dusun Sukamaju, Desa Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis.
TBM Sabilul Huda bukan sekadar tempat membaca buku. Perjalanannya menunjukkan bagaimana sebuah ruang keagamaan dapat berkembang menjadi ruang pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari koleksi buku pribadi yang ditempatkan di selasar masjid, kegiatan tersebut berkembang menjadi lembaga literasi yang memiliki legalitas, jaringan kemitraan, berbagai program pendidikan, serta mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga.
Gagasan mendirikan perpustakaan masyarakat mulai tumbuh sekitar tahun 2010. Salah satu penggeraknya, Zezen Zaini Nurdin, yang sejak 2007 mengabdi sebagai staf tata usaha dan pustakawan di MAN 6 Ciamis, melihat bahwa keberadaan perpustakaan sekolah belum sepenuhnya mampu menjangkau kebutuhan anak-anak di luar lingkungan sekolah.
Dari keprihatinan tersebut, Zezen mulai mengumpulkan buku-buku miliknya untuk dijadikan koleksi awal perpustakaan masyarakat. Gagasan itu kemudian mendapat dukungan dari Gita Robia Awaliah serta sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda setempat.
Pada 5 Januari 2012, dilakukan musyawarah bersama pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), tokoh masyarakat, dan pemuda. Hasil musyawarah tersebut kemudian diformalkan melalui Surat Keputusan Ketua DKM I Sabilul Huda Nomor 02/SK/DKM/I/2012 pada 3 Februari 2012 tentang pembentukan pengelola Perpustakaan Mesjid DKM I Sabilul Huda.
Perpustakaan tersebut pada awalnya tidak memiliki bangunan khusus. Buku-buku ditempatkan di emperan atau selasar Masjid Jami’ Sabilul Huda. Pilihan ini memiliki makna penting karena masjid tidak hanya diposisikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan dan kegiatan sosial masyarakat.
Anak-anak yang sebelumnya dianggap berpotensi mengganggu ketertiban di lingkungan masjid justru mulai mendapatkan ruang untuk membaca, belajar, dan berkegiatan. Dari sinilah perlahan terjadi perubahan cara pandang terhadap fungsi masjid di tengah masyarakat.
Pada masa awal, keterbatasan sarana menjadi salah satu tantangan utama. Koleksi buku terus bertambah, sementara tempat penyimpanannya sangat terbatas. Pengurus DKM kemudian menyediakan lemari untuk menyimpan buku-buku tersebut.
Minat anak-anak sekolah dan santri Diniyah semakin meningkat. Kondisi ini mendorong pengelola untuk memikirkan ruang baca yang lebih nyaman dan representatif.
Pada 2014, dengan memanfaatkan dukungan dana aspirasi DPRD Kabupaten Ciamis, dibangun sebuah ruangan khusus berukuran kecil di samping Masjid Sabilul Huda. Pembangunan tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan perpustakaan. Dari yang semula hanya berada di emperan masjid, perpustakaan mulai memiliki ruang khusus yang dapat digunakan masyarakat.
Perkembangan koleksi dan kegiatan kemudian mendorong pengelola untuk mengurus legalitas kelembagaan. Pada 2017, Pemerintah Desa Cileungsir memberikan pengakuan melalui SK Nomor 147.12/Kpts-07/Des/2017 dan menetapkan lembaga tersebut sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sabilul Huda.
Pada tahun yang sama, Yayasan Fimadina Ciamis dibentuk sebagai lembaga induk melalui Akta Notaris Nomor 16/2017 dan SK Kemenkumham Nomor AHU-0018371.AH.01.04.2017. Setahun kemudian, TBM Sabilul Huda dikukuhkan sebagai unit pelaksana pendidikan di bawah yayasan.
Pada 2018–2019, keberadaan TBM semakin diperkuat melalui pencatatan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis serta Perpustakaan Nasional RI dengan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) 3207153B2000001.
Dengan legalitas tersebut, TBM Sabilul Huda tidak lagi sekadar menjadi kegiatan membaca yang berlangsung secara swadaya, tetapi berkembang menjadi lembaga literasi masyarakat yang memiliki struktur kelembagaan dan jaringan kerja yang lebih luas.
Gerakan literasi di TBM Sabilul Huda memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai keislaman. Salah satu landasan utamanya adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang menempatkan aktivitas membaca dan menulis sebagai bagian penting dalam memperoleh pengetahuan.
Membaca tidak dipandang hanya sebagai kegiatan untuk memahami tulisan. Membaca juga menjadi pintu untuk mengenal kehidupan, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas manusia. Karena itu, keberadaan perpustakaan di lingkungan masjid dipahami sebagai bagian dari upaya menjadikan masjid sebagai pusat pembelajaran masyarakat.
Selain Surah Al-‘Alaq, pengelola juga menjadikan Surah Ar-Ra’d ayat 11 sebagai salah satu landasan perubahan sosial. Perubahan masyarakat dipandang harus dimulai dari perubahan yang tumbuh dari dalam diri masyarakat sendiri.
Semangat pengabdian juga diperkuat dengan nilai yang terkandung dalam Surah Al-Hujurat ayat 15, terutama mengenai kesungguhan dalam memberikan harta dan jiwa untuk kepentingan bersama.
Dengan demikian, gerakan literasi yang dibangun bukan sekadar gerakan menyediakan buku. Ada semangat keagamaan, pendidikan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat yang berjalan secara bersamaan.
Dalam perkembangannya, pengelola TBM menyadari bahwa menyediakan ruang baca saja tidak cukup. Buku-buku yang berkualitas juga harus tersedia dan mudah diakses oleh masyarakat.
Karena itu, sejak sekitar 2013–2014, pengelola mulai mengajukan berbagai proposal bantuan buku kepada sejumlah lembaga, di antaranya Perpustakaan Nasional RI, Yayasan Al-Sofwa Jakarta, serta penerbit seperti Mizan dan DIVA Press.
Koleksi TBM kemudian berkembang melalui berbagai jaringan donasi. Bantuan buku datang dari komunitas 1001buku, Gerakan Satu Juta Buku, Donasi Buku, Kelana Kelapa, Forum TBM Jawa Barat, dan berbagai pihak lainnya.
Tidak hanya buku berbahasa Indonesia, TBM juga menerima kitab dan buku berbahasa asing dari sejumlah negara seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Korea.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sebuah perpustakaan kecil di lingkungan pedesaan dapat membangun jaringan yang jauh lebih luas ketika masyarakat dan relawan memiliki kepedulian yang sama terhadap pendidikan anak.
Salah satu kekuatan TBM Sabilul Huda adalah kemampuannya mengubah kegiatan membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan. Pengelola tidak ingin perpustakaan menjadi tempat yang kaku dan hanya berisi rak-rak buku.
Karena itu, berbagai kegiatan dirancang untuk menggabungkan pendidikan, hiburan, kreativitas, dan pembentukan karakter.
Salah satu kegiatan rutin yang dikenal adalah Ahad Ceria. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Ahad dan ditujukan bagi anak-anak PAUD, SD, hingga SMP. Kegiatannya antara lain membaca nyaring, mendongeng, membuat mainan dari bahan bekas, menonton film edukasi, belajar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, serta edukasi tentang anti-perundungan.
Pada bulan Ramadan, TBM juga menyelenggarakan NGABARAN atau Ngaji Bareng Ramadan. Kegiatannya meliputi diklat literasi, tadarus buku, kajian akhlak, lomba mewarnai dan kaligrafi, Mimbar Cilik, hingga kegiatan sosial pembagian takjil.
Bagi remaja dan pemuda, terdapat kegiatan Sekolah Menulis yang memberikan pelatihan dasar kepenulisan, pembuatan karangan, dan literasi media. Kegiatan ini juga pernah dilakukan melalui kerja sama dengan Forum Lingkar Pena Kabupaten Ciamis.
Perkembangan teknologi turut mendorong TBM mengembangkan kegiatan literasi digital. Masyarakat diperkenalkan dengan penggunaan komputer, sumber informasi elektronik, internet sehat, serta pengelolaan perpustakaan digital.
Perjalanan TBM Sabilul Huda tidak terlepas dari dukungan berbagai komunitas dan lembaga. Salah satu jaringan yang berperan dalam perkembangan awal adalah komunitas 1001buku.
Pada 2015, TBM Sabilul Huda mengikuti Olimpiade Taman Bacaan Anak (OTBA) di Jakarta. Keikutsertaan tersebut tidak hanya menjadi pengalaman bagi anak-anak, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkenalkan TBM kepada masyarakat yang lebih luas.
Pada 2016, keberadaan TBM semakin dikenal setelah program dokumenter anak “Si Bolang” dari Trans7 menjadikan TBM dan anak-anak Sukamaju sebagai bagian dari liputan kebudayaan lokal Kecamatan Rancah.
Dukungan terhadap TBM terus berlanjut. Pada 2021, TBM Sabilul Huda memperoleh Bantuan Pemerintah Penguatan TBM dari Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk inventarisasi dan pelabelan sarana, penambahan rak buku, meja dan kursi baca, pengadaan buku, serta penyelenggaraan seminar penguatan literasi masyarakat.
Pada 2024, TBM Sabilul Huda kembali memperoleh dukungan melalui Program Penguatan Literasi Masyarakat dari Perpustakaan Nasional RI berupa 1.000 eksemplar buku bacaan bermutu beserta fasilitas pendukung layanan berbasis digital.
Kerja sama juga terjalin dengan berbagai lembaga pendidikan, termasuk Komunitas Siswa Pencinta Literasi MAN 6 Ciamis dan mahasiswa dari perguruan tinggi seperti IAID Ciamis.
Dampak keberadaan TBM Sabilul Huda tidak hanya dapat dilihat dari jumlah buku atau kegiatan yang diselenggarakan. Perubahan yang lebih penting terjadi pada cara masyarakat memandang fungsi ruang bersama.
Masjid yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk kegiatan ibadah mulai berkembang menjadi ruang pendidikan dan kegiatan sosial. Anak-anak yang dahulu dikhawatirkan mengganggu ketertiban masjid justru memperoleh ruang untuk belajar dan mengembangkan diri.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi ruang yang terbuka bagi pembentukan karakter generasi muda. Kegiatan membaca, mendongeng, berdiskusi, menulis, dan berbagai aktivitas kreatif dapat berjalan berdampingan dengan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.
Di tengah masyarakat pedesaan yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan pekerjaan harian, keberadaan TBM memberikan alternatif ruang belajar yang dapat diakses secara gratis.
Anak-anak memperoleh kesempatan untuk membaca, berbicara di depan umum, mengembangkan kreativitas, dan belajar menyampaikan gagasan. Kegiatan seperti Mimbar Cilik dan NGABARAN menjadi bagian dari proses membangun keberanian dan kepercayaan diri mereka.
Salah satu hal yang membuat TBM Sabilul Huda dapat bertahan adalah adanya semangat kerelawanan. Perjalanan TBM tidak hanya bergantung pada dua orang penggagas awal, tetapi berkembang melalui keterlibatan banyak anak muda di lingkungan sekitar.
Beberapa relawan yang terlibat antara lain Andi Rosmayadi, S.Pd., yang kemudian dipercaya menjadi Ketua Pengelola TBM, serta Dudi Triaji, Pupun Purnama, Dedi Supriadi, dan sejumlah relawan lainnya.
Kegiatan TBM dijalankan secara swadaya. Peserta tidak dibebani biaya untuk mengikuti kegiatan, sementara para tutor dan relawan menjalankan aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Semangat tersebut juga diperkuat melalui kegiatan Ramadan Berbagi di bawah Fimadina Foundation. Program ini menggalang dukungan masyarakat untuk berbagai kegiatan sosial, termasuk apresiasi bagi relawan, santunan yatim dan dhuafa, pembagian takjil, serta pemberian paket Lebaran kepada guru ngaji dan imam langgar di wilayah Dusun Sukamaju.
Perjalanan TBM Sabilul Huda memperlihatkan bahwa gerakan literasi tidak selalu harus dimulai dengan gedung besar, fasilitas lengkap, atau anggaran yang besar.
Gerakan tersebut justru dapat lahir dari kepedulian sederhana: seseorang yang mengumpulkan buku, masyarakat yang bersedia menyediakan tempat, pemuda yang mau menjadi relawan, serta anak-anak yang memiliki keinginan untuk belajar.
Dari sebuah selasar masjid pada 2012, TBM Sabilul Huda berkembang menjadi lembaga literasi masyarakat yang memiliki legalitas, jaringan nasional, berbagai program pendidikan, serta dukungan dari banyak pihak.
Yang lebih penting, perjalanan tersebut telah mengubah fungsi ruang masjid menjadi lebih luas. Masjid bukan hanya tempat untuk menjalankan ibadah ritual, tetapi juga dapat menjadi tempat tumbuhnya ilmu, kreativitas, persahabatan, dan karakter anak-anak.
TBM Sabilul Huda pada akhirnya menjadi contoh bahwa literasi dapat tumbuh dari bawah, dari masyarakat sendiri. Dengan modal sosial, semangat kerelawanan, nilai keagamaan, dan kemauan untuk terus bergerak, sebuah ruang kecil di pedesaan dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar bagi kehidupan masyarakat.
Dari buku-buku yang tersusun di selasar masjid, tumbuh sebuah harapan: bahwa membaca dapat membuka wawasan, pengetahuan dapat mengubah kehidupan, dan pendidikan dapat menjadi jalan bagi masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih baik.