TBM Sabilul Huda – Minggu, 4 Januari 2026, mengawali pelaksanaan Ahad Ceria perdana di tahun 2026 yang bertempat di Saung Aweuhan, area Fimadina Foundation, Desa Cileungsir. Kegiatan ini berlangsung hangat dan penuh semangat, menjadi ruang bersama bagi anak-anak dan orang tua untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan.
Seperti pelaksanaan Ahad Ceria sebelumnya, anak-anak TBM Sabilul Huda mengikuti kegiatan belajar dan bermain edukatif. Beragam aktivitas literasi, permainan kreatif, serta interaksi sosial dijalankan untuk menumbuhkan minat belajar, keberanian, dan kebiasaan positif sejak dini, dengan pendampingan para relawan TBM yang hadir seperti biasa memandu setiap kegiatan anak.
Di sisi lain, kegiatan kali ini juga menghadirkan program parenting bagi para orang tua berupa Sosialisasi Peran Orang Tua terhadap Penggunaan Gadget Anak. Kegiatan ini difasilitasi oleh mahasiswa Universitas Siliwangi (UNSIL) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cileungsir.
Salah satu pemateri, Ari, mahasiswa KKN UNSIL, menyampaikan bahwa gadget bukanlah musuh utama dalam pengasuhan anak. “Yang perlu dibenahi itu cara penggunaannya. Anak butuh pendampingan, bukan sekadar larangan,” ujarnya di hadapan para orang tua.
Ia menegaskan bahwa anak belajar dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari di rumah. Menurutnya, keteladanan orang tua, aturan yang konsisten, serta komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar penggunaan gadget tetap terarah dan tidak berdampak negatif pada perkembangan anak.
Diskusi berlangsung aktif ketika Bu Aan, salah satu orang tua peserta, menyampaikan tanggapannya. Ia mengaku sering kali menghadapi dilema saat membatasi gadget anak. “Kadang kita melarang anak main HP, tapi kita sendiri masih sering memegang HP. Dari kegiatan ini saya jadi sadar, contoh orang tua itu sangat berpengaruh,” tuturnya.
Menutup rangkaian kegiatan, Gita Robia Awaliah, salah satu tutor TBM Sabilul Huda, berharap Ahad Ceria tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga membawa perubahan nyata di lingkungan keluarga. Ia menekankan pentingnya kesinambungan antara pendampingan di TBM dan pola asuh di rumah, sehingga nilai-nilai yang dipelajari anak dan orang tua dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
