Ahad, 15 Mei 2022, untuk pertama kalinya kami melaksanakan Ahad Ceria kembali setelah berakhirnya acara Ngabaran (Ngaji Bareng di Bulan Ramadhan) dan libur lebaran.

Ahad kali ini adalah Ahad pertama dengan nuansa pola pengajaran yang baru, dimana anak-anak sudah dibagi ke dalam tiap-tiap kelas; Kelas Capétang (anak-anak yang usia perkembangan antara 3-6 tahun), Kelas Calakan (anak-anak yang usia perkembangan antara 7-9 tahun), Kelas Binékas (anak-anak yang usia perkembangan antara 10-12 tahun) dan Kelas Rancagé (anak-anak yang usia perkembangan antara 13-19 tahun).
Pembelajaran semua Kelas diawali dengan kegiatan pembiasaan terlebih dahulu, yaitu membaca do’a bersama, lalu membawa salah satu buku dengan metode anak-anak bebas memilih buku yang tersedia di Saung, ada yang membaca, asik melihat gambar-gambar, hal ini agar anak-anak bisa lebih mengeksplor lagi kegiatan yang diinginkannya.

Di Kelas Capétang, kami awali dengan perkenalan. Saat itu, kami mencoba masuk kedalam percakapan anak-anak yang sedang perkenalan agar saling mengenal satu sama lain, dengan menunjukan sifat ‘wantér’-nya (berani) masing-masing anak. Setelah itu kami mulai aktifitas anak-anak untuk menggambar mewarnai sesuai kreatifitas masing-masingnya, mengenalkan, membedakan dan menyebutkan macam-macam warna dalam 3 bahasa; bahasa Sunda, Indonesia dan Inggris.

Pada waktu yang bersamaan, kemudian di Kelas Calakan juga mengawali kegiatan dengan saling berkenalan, dilanjutkan dengan pembelajaran membaca di hadapan teman-teman yang lain guna untuk melatih keberanian mereka, lalu menggambar apa yang terlintas di benak mereka masing-masing dan terakhir bermain menebak nama binatang sesuai huruf pertama yang telah ditentukan, secara tidak langsung dapat melatih kecepat tanggapan atau stimulus respon mereka dalam berpikir.

Namun tentunya, Ahad Ceria perdana setelah Ramadhan dan lebaran ini, kami juga ada Kelas Binékas yang di dalamnya terdapat anak-anak usia 10-12 tahun. Kalau melihat data, kelas Binékas-lah yang paling banyak anggotanya. Nah, kami pun Pegiat pada kesempatan ini berpikir bagaimana caranya meracik anak-anak Binékas ini dengan awal yang luar biasa supaya dengan banyaknya anggota dikelas ini bisa menghasilkan sesuatu yang dilakukan secara luar biasa. Akhirnya kami membuat kelompok untuk kerjasama tim, bagaimana caranya bekerjasama untuk menciptakan sebuah hasil karya yaitu membuat alat sapintrong atau loncat tinggi dari karet. Tiap kelompok dibagi tugas, ada yang menghitung jumlah karet terlebih dahulu, ada yang mencatat datanya, ada yang mulai membereskan dan menyiapkan karet gelang untuk siap dirangkai menjadi sebuah alat sapintrong atau loncat tinggi. Dengan pola interaksi dari Pegiat, anak-anak dengan senang hati memulai dan merangkai karet gelang tersebut sesuai dengan tugasnya masing-masing. Ya, namanya anak-anak, apapun yang dilakukan pasti seru dan riang tertawa. Beberapa karya dari setiap kelompok pun jadi, mereka sangat senang, karena dibuat dengan penuh riang gembira dan tentunya menggunakan cara yang luar biasa yaitu *KERJASAMA.*

Kegiatan pembelajaran pun selesai, lalu anak-anak memulai permainan Ludo Raksasa dengan semangat dan antusiasme yang tinggi, karena saling menginginkan hasil koclokan dadu berjumlah 6, meng-asikkan.
Permainan Ludo Raksasa akhirnya selesai, kegiatan berakhir saat waktu menunjukan pukul 11.30, kami pun pulang ke rumah masing-masing serta tak lupa saling berpamitan, bersalaman satu sama lain.

Penulis: Devi Juniar Rahayu, Anggi Novi Riyanti Rosidin dan Dudi Triaji